Blogger Widgets

Pesta Miras Berujung Pembunuhan

Diposting Unknown jam 19.12
Pesta Miras Berujung Pembunuhan

TEMBALANG- Buntut minuman keras selalu diikuti tindak kriminal yang membahayakan masa depan. Bahkan akibat miras bisa meregang nyawa. Seperti yang terjadi di Jalan Pancursari I, RT 11/RW 04, Kelurahan Jangli, Tembalang. Pesta miras yang digelar sekelompok pemuda, berujung pembunuhan.


Teman dalam lingkaran alkohol tersebut saling berseteru hingga menyebabkan Misnanto (33), warga Jalan Pancursari I, RT 11/RW 04, Kelurahan Jangli, Tembalang, tewas dibacok senjata tajam.

Pelaku pembacokan itu adalah Andi Prasetyo alias Gentong (25), warga Jalan Bukit Rejo RT 03/RW 04 Kelurahan Tandang, Tembalang. Andi sendiri berhasil diringkus oleh tim Reskrim Polsek Tembalang dan Resmob Polrestabes beberapa saat setelah kejadian. Sementara tiga pelaku lain, sudah diketahui identitasnya, masih diburu polisi.

Misnanto tewas mengenaskan akibat dikeroyok kawan-kawannya tersebut. Identifikasi kepolisian, ditemukan 10 sayatan senjata tajam di tubuh korban. Di antaranya di kaki, tangan, punggung, pipi, dan kepala. Terparah, di kepala korban bagian belakang mengalami luka parah akibat dihantam pot bunga.

Keluarga korban merasa terpukul atas insiden tersebut. Ayah korban, Toha (65), merasa belum bisa menerimakan anaknya tewas dibantai oleh 4 orang yang telah dikenalnya itu. "Anak saya mati, pelakunya juga harus dihukum mati," kata Toha ditemui di rumah duka.

Korban sendiri meninggalkan istri bernama Solekah (32) dan dua anaknya, masing-masing Kamilia (13) dan Desti (5). Hingga kemarin, Solekah masih syok dan masih sering pingsan saat mengingat suami sang tulang punggung keluarga tersebut.

Keterangan dari beberapa saksi yang dihimpun, insiden tersebut terjadi Jum'at (6/7), pukul 16.00. Tepatnya di Jalan Pancursari RT 04/RW 04 Kelurahan Tandang, Tembalang. Awalnya, korban mendapat SMS dari salah seorang pelaku untuk diajak pesta miras. Menerima ajakan tersebut, korban tak lama kemudian mendatangi ke lokasi kejadian di kampung Pancursari. Korban bersama tersangka ditemani 5 temannya sedang menggelar pesta miras.

Kurang lebih 15 menit kemudian, korban mengeluarkan sajam dari balik jaket. Senjata yang telah dibawa korban dari rumah tersebut kemudian diarahkan ke tubuh tersangka mengenai tengkuk dan telapak tangan tersangka. Melihat diserang, kemudian tersangka memberikan perlawanan berhasil merebut sajam dari tangan korban.

Dibantu teman-temannya, tersangka menghajar dengan menggunakan senjata tajam. Korban terkapar dan bersimbah darah.Tersangka Andi alias Gentong mengaku, awalnya tidak ada masalah antara dirinya dan korban. Ia sendiri mengaku tidak tahu menahu soal mengapa korban mengalungkan golok. ”Kami mabuk biasa. Sudah seperti biasa, sebelumnya sudah sering minum bareng," ujar tersangka di Mapolrestabes.

Gentong mengaku tersinggung lantaran korban mengalungkan golok. ”Saya menjaga diri, dia sudah mengancam akan membacok. Makannya saya rebut golok itu dari tangannya dan menyerang hingga jatuh tersungkur. Tangan saya sampai berdarah,” ujarnya.

Bukannya menolong, justru teman-teman yang lain ikut mengeroyok korban. Bahkan saat korban terperosok di selokan salah seorang pelaku mengantam kepala korban dengan Pot bunga. Puas menghajar korban, Gentong cs bergegas kabur. Korban sempat dilarikan ke RS Roemani. Namun akibat pendarahan berlebih, korban akhirnya mengembuskan nafas terakhir.

Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Elan Subilan mengatakan masih melakukan penyelidikan dan memburu tersangka yang lain. ”Identitas pelaku sudah kami kantongi. Sementara masih dalam pengejaran," katanya. (G-15)

2 komentar:

 

Korupsi


Siapa lagi? »

Peristiwa


Arsip Peristiwa »

Berita


Arsip Berita »

Modus


Arsip Modus »

Jeng-jeng


Arsip Jeng-jeng »

Kasus


Arsip Kasus »

Horor Kota


Arsip Horor Kota »

Kriminal


Arsip Kriminal »

Tradisi Budaya


Selanjutnya »

Politik Itu Kejam


Simak Selanjutnya? »

Komunitas Pembaca


*) Tulis peristiwa di sekitar Anda, kirimkan ke email redaksi kami: singautara79@gmail.com

Citizen Journalism


Siapa lagi yang nulis? »

Wong Kene


Arsip Wong Kene »